Pages

24 Mar 2009

Es di Permukaan Mars?

Walaupun masih belum bisa dibuktikan secara langsung melalui pengukuran ilmiah, para ilmuwan meyakini bahwa mereka telah berhasil menemukan keberadaan es di permukaan Mars. Hal tersebut dapat dilihat dari material misterius berwarna putih yang terlihat di permukaan Mars beberapa hari terakhir.

Citra yang dikirimkan wahana Phoenix Mars Lander memperlihatkan material yang berwarna lebih cerah daripada lingkungan sekitarnya di ujung lokasi pengerukan sampel. Hal ini sempat memancing keingin-tahuan para ilmuwan yang terlibat mengenai apakah apakah material tersebut benar-benar es seperti perkiraan selama ini ataukah onggokan garam.

Namun, pengamatan selama beberapa hari menunjukkan bahwa bagian yang berwarna putih tersebut berangsur-angsur menghilang. Dengan demikian, kemungkinan besar material tersebut memang es yang kemudian menguap setelah terpapar suhu yang lebih hangat di permukaan. Garam tak mungkin hilang karena tidak menguap. Demikian seperti dijelaskan oleh Peter Smith, salah satu peneliti utama misi Phoenix.


Citra permukaan Mars yang diambil tanggal 15 Juni (kiri) dan 19 Juni (kanan). Lapisan putih tipis di sebelah kiri terlihat menyusut, diperkirakan akibat penguapan. (Gambar: NASA)

Sekalipun demikian, bukti yang lebih akurat mengenai ada tidaknya es di Mars masih terus digali dengan mempelajari sampel tanah yang didapat. Saat berita ini diturunkan, Phoenix telah selesai melakukan pengambilan sampel dari lokasi dimana bercak putih tersebut ditemui. Sampel tersebut kini sedang dianalisis oleh laboratorium mini pada wahana Phoenix.

Phoenix mendarat di daerah yang dekat dengan kutub utara Mars. Para ilmuwan yakin di bawah permukaan tanah di lokasi pendaratannya terdapat es. Misi utama wahana pendarat milik badan antariksa AS ini membuktikan hal tersebut sekaligus mempelajari apakah lingkungan di planet merah tersebut mendukung keberadaan organisme hidup. (mars.jpl.nasa.gov)

Melihat Gas Yang Mengelilingi Bayi Bintang


Dengan menggunakan Very Large Telescope Interferometer (VLTI) milik ESO, astronom berhasil melakukan survei resolusi tinggi yang menggabungkan spektroskopi dan interferometri pada bayi bintang yang memiliki massa menengah. Para astronom bisa memperoleh pemandangan proses di piringan yang memberi makan bayi bintang saat si bintang ini terbentuk. Mekanisme ini termasuk material yang runtuh ke dalam bintang, sekaligus juga gas yang dilepaskan keluar, mungkin sebagai angin pada piringan.

Bayi bintang terbentuk dari piringan gas dan debu yang mengelilingi bintang baru. Piringan gas ini di kemudian hari juga menjadi penyedia bahan dasar terbentuknya sistem keplanetan. Area pembentukan bintang yang paling dekat dari kita berjarak 500 tahun cahaya, dengan demikian piringannya hanya terlihat sebagai objek yang sangat kecil di langit. Nah, untuk bisa mempelajarinya, dibutuhkan teknik yang khusus untuk mendapatkan detail yang diperlukan. Teknik yang digunakan adalah inteferometri, yaitu teknik yang menggabungkan cahaya dua atau lebih teleskop sehingga tingkat akurasi dan detail yang didapatkan bisa bersesuaian dengan yang tampak oleh teleskop berdiameter sama dengan separasi di antara elemen interferometer berkisar antara 40-200 meter. VLTI milik ESO dalam pengamatan ini bisa mencapai resolusi milidetik-busur, sudut yang sangat kecil. Sampai saat ini interferometri digunakan untuk melacak debu yang berada dekat di sekitar bintang, namun debu hanyalah satu persen dari total massa piringan yang komponen utamanya adalah gas. Jika gas di dalam piringan bisa diketahui distribusinya, maka susunan akhir dari sistem keplanetan yang sedang terbentuk bisa diketahui.

Kemampuan dari VLTI dan instrumen AMBER untuk merekam citra saat menyelidiki objek pada resolusi milidetik-busur telah memampukan para astronom untuk memetakan gas. Studi dilakukan terhadap enam bintang muda yang berasal dari keluarga objek Herbig Ae/Be yang massanya beberapa kali massa Matahari. Objek-objek ini masih dalam masa pembentukan dan mengalami peningkatan massa karena menelan materi di sekeliling piringan. Pengamatan yang dilakukan juga digunakan untuk menunjukkan proses emisi gas, yang dapat digunakan untuk melacak proses fisis yang terjadi dekat bintang.

Perdebatan asal usul gas emisi dari bintang-bintang muda ini telah lama diperdebatkan, karena pada saat pengamatan dan penyelidikan dilakukan, resolusi yang dicapai masih belum seperti saat ini. Akibatnya, distribusi gas di dekat bintang tidak dapat diketahui dengan baik dan pada akhirnya timbul berbagai pendapat tentang proses fisis gas di area tersebut.

Astronom telah berhasil menemukan bukti keruntuhan materi pada bintang untuk kasus dua buah bintang muda, dan kasus massa yang mengalir keluar pada empat bintang muda lainnya dalam bentuk angin bintang atau dalam angin piringan. Selain itu, ada satu bintang yang debunya masih berada dekat dengan bintang dibanding kasus yang umum terjadi. Debu tersebut begitu dekat dan pada jarak tersebut temperatur yang sangat tingi harusnya membuat debu menguap. Namun sayangnya kondisi debu ini tidak teramati sehingga bisa diartikan ada semacam pelindung dari gas yang melindunginya dari cahaya bintang.

Pengamatan ini membuktikan bahwa kondisi gas disekitar bintang sangat mungkin untuk diamati dan dipelajari. Pengamatan lanjutan menggunakan VLTI spektro-interferometri akan menentukan distribusi spasial dan gerak dari gas. Dan bisa jadi akan mencoba mengungkapkan apakah garis emisi yang teramati disebabkan oleh letupan yang terjadi dari piringan atau akibat angin bintang.

Sumber : ESO

Mengurai Misteri dan Potensi Planet Super Bumi

Era tahun 1995 menjadi tonggak dimulainya pencarian planet baru di luar Tata Surya saat sebuah planet ditemukan di bintang 51 Pegasi, bintang yang mirip Matahari. Jauh sebelum itu memang telah ditemukan planet yang mengelilingi Pulsar, namun keberadaan planet lain di sekitar bintang serupa Matahari menjadi awal perburuan planet-planet di luar Tata Surya. Sejak saat itu, sudah 342 planet yang ditemukan.

Ilustrasi exoplanet kebumian. Kredit : NASA

Ilustrasi exoplanet kebumian. Kredit : NASA

Saat perburuan dimulai, planet-planet yang ditemukan hanyalah planet gas masif yang mirip Jupiter. Namun, perkembangan teknik pengamatan masa kini telah membawa manusia pada perburuan planet serupa Bumi yang lebih kecil. Planet batuan serupa Bumi di luar Tata Surya bukan lagi sebuah mimpi yang menanti untuk disingkap, karena saat ini satu per satu planet seperti itu berhasil ditemukan dan dikenal dengan nama Super Bumi.

Planet Super Bumi merupakan planet yang massanya sekitar 10 kali massa Bumi, karena jika lebih, si planet akan cenderung menjadi planet gas seperti Uranus dan Neptunus. Tak seperti planet gas raksasa, ukuran Super Bumi cukup kecil untuk memiliki permukaan tanah maupun lautan yang memungkinkan untuk mendukung kehidupan. Sampai saat ini, planet Super Bumi yang ditemukan masih belum bisa menjadi tempat liburan alias belum bisa mendukung kehidupan untuk ada di dalamnya. Pencarian masih terus dilakukan, dan tak bisa dipungkiri, suatu saat nanti mungkin saja kita akan menemukan sebuah planet yang memiliki komposisi kimia yang tepat dan jarak yang pas dari bintang induk untuk dapat mendukung berlangsungnya kehidupan di dalam planet tersebut.

Bagaimanakah kehidupan di planet Super Bumi?

Yang pertama, massa planet Super Bumi memang 10 kali massa Bumi. Namun, tak berarti ia akan memiliki diameter 10 kali lebih besar dari Bumi. Hubungan tak linier antara massa dan ukuran planet membuat planet Super Bumi akan memiliki ukuran lebih kecil. Dan jika kita bisa mengunjungi planet Super Bumi, maka kita akan merasa lebih berat. Kok bisa? Ternyata, ini dipengaruhi gravitasi planet Super Bumi yang lebih besar. Selain itu, planet Super Bumi juga memiliki atmosfer yang lebih tebal dan rapat.

Dengan mengesampingkan berbagai perbedaan, pada kondisi yang tepat Planet Super Bumi akan dapat melabuhkan kehidupan di dalamnya. Yang pasti bukan kehidupan seperti misalnya permainya pohon kelapa di pantai atau mungkin kehidupan seperti manusia. Namun, resep yang pas tersebut akan memberi kesempatan pada kehidupan untuk tumbuh dan berkembang, apa pun bentuknya.

Dan, ketika planet Super Bumi semakin banyak ditemukan, kesempatan untuk menemukan planet serupa Bumi hanya tinggal menunggu hitungan waktu.

Planet Kebumian atau Bukan ?

Ilustrasi exoplanet kebumian saat melintasi bintang induk disertai kurva cahayanya. Kredit : NASA

Ilustrasi exoplanet kebumian saat melintasi bintang induk disertai kurva cahayanya. Kredit : NASA

Bagaimanakah para peneliti bisa mengetahui sebuah planet memiliki permukaan batuan seperti Bumi dan Mars? Bagaimana mereka membedakannya dari planet gas raksasa seperti Saturnus dan Neptunus?

Jawabannya, ketika sebuah planet melintas atau transit di depan bintang induknya, ia akan menghalangi sejumlah cahaya dari bintang. Pada saat itu, bintang akan sedikit meredup.

Ketika sebuah planet gas raksasa melintas, cahaya bintang induk akan berangsur-angsur meredup. Peredupan cahaya bintang terjadi saat cahaya bintang harus melewati lapisan gas tebal di atmosfer sampai seluruh planet berada di depan si bintang. Namun, untuk planet kebumian, atmosfernya lebih tipis sehingga proses meredupnya cahaya bintang terjadi lebih cepat saat planet bergerak melintasi bintang induk.

Pada saat planet melintasi bintang, cahaya bintang yang melewati atmosfer si planet akan dapat ditelaah oleh para peneliti untuk mengetahui keberadaan komponen kimia yang bisa menjadi petunjuk kehidupan di planet tersebut.

23 Jan 2009

:: Pembukaan Tahun Astronomi Internasional 2009 ::

Pada tanggal 15-16 Januari 2009, astronom dari seluruh dunia berkumpul di Paris untuk memulai Tahun Astronomi Internasional 2009 atau yang dikenal dengan slogan International Year of Astronomy 2009 (IYA2009). Pertemuan ini merupakan pertemuan terbesar yang diadakan untuk berbagi keajaiban dan keindahan alam semesta pada publik.

Secara resmi pembukaan IYA2099 dimulai pada tanggal 15 januari 2009 bertempat di Markas besar UNESCO di Paris. Acara pembukaan dihadiri oleh perwakilan setiap negara, diplomat, peneliti dari sleuruh dunia, mahasiswa astronomi dari berbagai negara, astronot, para pekerja industri, artis, dll. Mereka smeua hadir untuk menandai dimulainya perayaan 400 tahun astronomi modern, era yang dimulai ketika Galileo melakukan observasi ke angkasa dengan teleskop untuk pertama kalinya pada tahun 1609.

Presiden IAU Catherine Cesarsky berpidato dalam acara pembukaan IYA2009. Kredit :IAU/José Francisco Salgado
Presiden IAU Catherine Cesarsky berpidato dalam acara pembukaan IYA2009. Kredit :IAU/José Francisco Salgado
Menurut Catherine Cesarsky, Presiden International Astronomical Union (IAU),” Setelah persiapan selama bertahun-tahun akhirnya tiba juga saatnya untuk meluncurkan pelaksanaan tahun astronomi Internasional. Sepanjang tahun astronomi masyarakat dunia akan diajak untuk menemukan kembali tempatnya di dalam alam semesta ini dan mendengar berbagai berita penemuan yang menakjubkan. Acara pembukaan di markas besar UNESCO diikuti oleh representatif 136 negara yang bergabung dalam perayaan besar astronomi tersebut.”

Acara pembukaan yang dilangsungkan selama 2 hari, diisi dengan presetasi berbagai aktivitas termasuk oleh peraih hadiah nobel Bob wilson dan Baruch Blumberg yang berbicara tentang penemuan terbaru di astronomi. topik lain yang dikemukakan dalam pertemuan ini adalah peranan astronomi dalam budaya dan publik, observasi astronomi secara real time, dan acara pembukaan ditutup dengan penampilan pemenang Grammy award the Kronos Quartet.

Acara pembukaan IYA2009 memang menandai awal dari perjalanan Tahun Astronomi di dunia. Sebuah perjalanan yang akan membawa astronomi kepada publik dengan tema “The Universe, Yours to Discover”. Ratusan sampai ribuan kegiatan akan dilangsungkan di seuruh dunia baik secara global, regional maupun nasional. Kegiatan-kegiatan tersebut akan memberi kotribusi nyata dalam budaya dan masyarakat serta menekankan pentingnya kebersamaan dan memberi jawaban atas berbagai pertanyaan fundamental tentang kehidupan.

Koïchiro Matsuura, Director-General of UNESCO saat berpidato dalam Pembukaan tahun Astronomi Internasional 2009. Kredit : IAU/José Francisco Salgado
Koïchiro Matsuura, Director-General of UNESCO saat berpidato dalam Pembukaan tahun Astronomi Internasional 2009. Kredit : IAU/José Francisco Salgado
Dalam pembukaan Koïchiro Matsuura, Director-General of UNESCO menyatakan, “Manusia selalu menengadah ke langit dan mencari jawaban di sana atas pertanyaan-pertanyaan, ‘Bagaimana kita bisa berada disini atau Mengapa kita ada disini?’. Angkasa adalah milik semua orang. Astronomi merupakan alat untuk mempromosikan perdamaian dan kesepahaman di antara bangsa-bangsa yang juga seiring dengan misi dari UNESCO.”

Matsura juga menambahkan,”Kami akan medorong penduduk bumi, terutama anak-anak muda untuk belajar lebih banyak tentang alam semesta dan mengeksplorasi lebih jauh hubungan antara astronomi yang ilmiah dan kebudayaan.”

Acara pembukaan IYA2009 yang dilaksanakan selama 2 hari diikuti oleh hampir 1000 peserta. Laporan dan kisah selama pembukaan bisa diikuti di www.cosmicdiary.org/lee_pullen

16 Jan 2009

: Fenomenal Lapisan Langit :

Langit bisa diuraikan atau diartikan secara luas mempunyai 7 lapisan langit (saba’a saamawaat) yang dijelaskan pula dalam al-quran surat al-Mulk ayat 3 dan Nuh ayat 15.

Dalam masa atau dikalangan Musafirin lama, pernah berkembang penafsiran susunan langit berdasarkan konsep geosentris, yang menyebutkan bahwa bulan berada di urutan langit pertama, kemudian Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus berada diurutan langit kedua sampai ketujuh.

Bukan suatu kebetulan bahwa 1 januari ditetapkan sebagai Saturday-Saturnus-Doyobi (dari nama Jepang) . Kemudian disusul Sunday (Nichyobi), bulan (Moon) pada Monday, Merkurius pada Thrusday dan begitu seterusnya.

Konsep Geosentris hampir sama dengan peristiwa Isra’ Mijraj Nabi Muhammad saw. Yang menempuh perjalanan menuju langit ketujuh utuk bertemu Allah SWT.

Dilangit pertama, beliau menjumpai Nabi Adam as., lalu dilangit kedua beliau menjumpai Nabi Isa dan Nabi Yahya. Nabi Yusuf dilangit ketiga. Nabi Idris dilangit keempat. Nabi Harun dilangit kelima. Langit keenam Nabi Musa. Dan dilangit ketujuh menjumpai Nabi Ibrahim.

Makna sebenarnya dalam istilah 7 lapisan langit atau 7 susunan langit merupakan maksud dari banyaknya benda yang berada di alam semesta ini. Berupa komet, asteroid, meteoroid, planet, matahari, garis edar, debu, teroid, dsb. Yang sebenarnya benar-benar tidak bisa terhingga untuk dihitung, dilihat ataupun disebutkan.

Fenomenal lapisan langit yang awalnya terkemuka lewat konsep geosentris merupakan suatu cernaan yang didalam Al-Quran yang diartikan secara lebih luas, yang bukan terpaku dalam 7 langit saja dan sama sekali bukan hitungan dalam jumlah eksak.

3 Jan 2009

:: Teknik Fotografi ::

Komposisi adalah susunan objek foto secara keseluruhan pada bidang gambar sehingga objek menjadi pusat perhatian (POI=Point of Interest). Dengan mengatur komposisi foto, kita juga dapat membangun "mood" suatu foto dan keseimbangan keseluruhan objek.

Berbicara komposisi, selalu terkait dengan kepekaan dan "rasa" (sense). Untuk itu sangat diperlukan upaya untuk melatih kepekaan kita agar dapat memotret dengan komposisi yang baik.

Dibawah ini merupakan panduan umum yang sangat sederhana dan biasa dipakai untuk menghasilkan komposisi sebuah foto yang baik. Kita juga dapat mulai belajar dan mengasah kepekaan dengan mengikuti panduan di bawah ini.

Rule of thirds. (Sepertiga Bagian)

Pada aturan umum fotografi, bidang foto sebenarnya dibagi menjadi 9 bagian yang sama. Sepertiga bagian adalah teknik dimana kita menempatkan objek pada sepertiga bagian bidang foto. Hal ini sangat berbeda dengan yang Umum dilakukan dimana kita selalu menempatkan objek di tengah-tengah bidang foto.

Sudut Pemotretan (Angle of View)

Salah satu unsur yang membangun sebuah komposisi foto adalah sudut pengambilan objek. Sudut pengambilan objek ini sangat ditentukan oleh tujuan pemotretan. Maka dari itu jika kita mendapatkan satu moment dan ingin mendapatkan hasil yang terbaik,
jangan pernah takut untuk memotret dari berbagai sudut pandang. Mulailah dari yang standar (sejajar dengan objek), kemudian cobalah dengan berbagai sudut pandang dari atas, bawah, samping sampai kepada sudut yang ekstrim.

Komposisi pola garis Diagonal, Horizontal, Vertikal, Curve.

Didalam pemotretan Nature, pola garis juga menjadi salah satu unsur yang dapat memperkuat objek foto. Pola garis ini dibangun dari perpaduan elemen-elemen lain yang ada didalam suatu foto. Misalnya pohon,ranting, daun, garis cakrawala, gunung, jalan, garis atap rumah dan lain-lain..

Elemen-elemen yang membentuk pola garis ini sebaiknya diletakkan di sepertiga bagian bidang foto. Pola Garis ini dapat membuat komposisi foto menjadi lebih seimbang dinamis dan tidak kaku.

Background (BG) dan Foreground (FG)

Latar belakang dan latar depan adalah benda-benda yang berada di belakang atau didepan objek inti dari suatu foto. Idealnya BG dan FG ini merupakan pendukung untuk memperkuat kesan dan fokus perhatian mata kepada objek.

Selain itu juga "mood" suatu foto juga ditentukan dari unsur-unsur yang ada pada BG atau FG. BG dan FG, seharusnya tidak lebih dominan (terlalu mencolok) daripada objek intinya. Salah satu caranya adalah dengan mengaburkan (Blur) BG dan FG melalui pengaturan diafragma.

- fotografi . photograhpy-

Fotografi (Photography, Ingrris) berasal dari 2 kata yaitu Photo yang berarti cahaya dan Graph yang berarti tulisan / lukisan. Dalam seni rupa, fotografi adalah proses melukis / menulis dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera.

Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada cahaya, berarti tidak ada foto yang bisa dibuat

Prinsip fotografi adalah memokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghailkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).

Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan merubah kombinasi ISO / ASA (ISO Speed), Diafragma (Aperture), dan Kecepatan Rana (Speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed selanjutnya disebut sebagai Eksposur (Exposure)

Di era fotografi digital dimana film tidak digunakan, maka kecepatan film yang semula digunakan berkembang menjadi Digital ISO

Klasifikasi

Fotografi memiliki banyak cabang atau kekhususan berdasarkan subyek fotgrafinya, di antaranya:

Foto jurnalistik adalah foto yang merekam suatu berita, biasanya foto jenis ini terpasang di media cetak seperti koran atau majalah.

Dunia fotografi juga memiliki kekhasan aliran tersendiri menurut gaya maupun teknik fotografi yang dianut, misalnya:

Daftar Istilah Fotografi

Beberapa istilah fotografi akan membingungkan bila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Oleh karena itu istilah yang sudah berlaku umum tetap dipertahankan

Baca juga : Daftar istilah fotografi

Tokoh Fotografi (Jurnalistik) di Indonesia

Tokoh Fotografi (Umum) di Indonesia

Jenis Kamera

Blogroll

About Me

Foto saya
ART. Writer. Designer. Photographer. Illustrator. Drawing